Rabu, 26 Oktober 2011

United Nation

Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) adalah sebuah lembaga resmi dalam skala internasional yang bergerak independen untuk melakukan misi-misi kemanusiaan. Ranah kerja PBB misalnya pengentasan kemiskinan yang diemban oleh UNDP, peningkatan pendidikan oleh UNICEF, UNESCO dan United Nation High Commission of Refugee (UNHCR).

Pada 2011, PBB mempunyai program The United Nations 4 You (UN4U) Campaign 2011. Fikom Untar mempunyai kesempatan untuk menggelar sebuah seminar campaign PBB ini yang diwakili oleh Ms. Mitra Salima Suryono, Associate External Relatins and Public di UNHCR.
UNHCR sendiri adalah sebuah lembaga yang menangani refugee (pengungsi). Menurut konvensi 1951 pasal 1a, pengungsi adalah mereka yang:
-       - berada di luar negara asal, memiliki ketakutan yang mendasar dan korban penganiayaan atas dasar ras, agama, kebangsaan, keanggotaan kelompok sosial tertentu atau pendapat politik.
-             - Tidak dapat atau karena ketakutannya tidak mau memanfaatkan perlindungan dari negara tersebut.

Instrumen hukum utama yang dipegang oleh UNHCR adalah konvensi 1951 tentang status pengungsi dan protocol 1967 yang mengangkat batasan waktu dan geografis.

Prioritas orang-orang yang dibantu UNHCR adalah golongan rentan: anak-anak tanpa pendamping,wanita dengan kebutuhan khusus, korban tindak kekerasan dan manula.

UNHCR bekerja untuk membangun kesadaran tentang isu pengungsi yang ada di dunia. UNHCR membidik para anak muda untuk ikut memberi perhatian bagi para pengungsi. Hasil yang diharapkan dari kerja keras UNHCR adalah komitmen untuk membantu pengungsi. One Refugee is too many.

Minggu, 09 Oktober 2011

Perkembangan Pers dari Zaman Orde Lama Hingga Zaman Sosial Media

Pers mempunyai peran besar dalam memberitakan kemerdekaan Indonesia pada tahun 1945. Presiden pertama Republik Indonesia, Soekarno dapat memperdengarkan pembacaan teks proklamasi ke seluruh pelosok nusantara melalui radio. Koran-koran pun tak ketinggalan mengabarkan keberhasilan perjuangan bangsa ini.


Sejak itu, banyak media cetak bermunculan, pilihan media pun menjadi beragam dan bersaing secara sehat. Media-media yang ada pada saat itu berada di bawah kontrol pemerintah meski tidak terlalu ketat. Pengaturan terhadap pers dilakukan oleh pemerintah. kebebasan berpendapat pun mulai dibatasi.


Selama orde baru, kontrol pemerintah menjadi semakin ketat. Pemerintah saat itu diktator, media yang berusaha menjatuhkan pihak pemerintah mengalami pembredelan. Sama sekali tidak ada kebebasan pers pada masa itu. Pers menjadi alat untuk meliput hal-hal baik tentang pemerintah.


Seusai rezim ode baru tumbang, pers mulai menemukan peran dan fungsinya sebagai pilar keempat. banyak kasus korupsi, kolusi dan nepotisme yang terungkap di kalangan pemerintah. Banyak media yang muncul dan mengkritik kinerja pemerintah. Kontrol pemerintah dapat dilihat oleh rakyat melalui pers.


Berbicara tentang media dan pers, tidak lepas dari teknologi informasi. Berkembangnya teknologi internet memicu munculnya komunikasi 2.0 di mana para pengguna internet (netter) dapat mengakses informasi dari pengguna belahan dunia lain. Tak hanya mengakses, netter lain pun dapat memberikan komentar terhadap informasi yang dibagikan. dari sinilah muncul jurnalisme bentuk baru, yaitu jurnalisme warga.


Munculnya catatan harian elektronik atau yang kerap disebut blog seperti yang disediakan blogspot.com danjejaring sosial seperti facebook dan twitter juga populer dan banyak digunakan pengguna internet sebagai sarana melakukan jurnalisme warga. 


Masalah yang dihadapi oleh pers saat ini adalah jurnalisme warga yang marak berkembang. Opini publik mudah berkembang. pemberitaan yang diambil dari sosial media belum tentu akurat, cenderung mengandalkan kecepatan dan mengabaikan ketepatan. 


Sumber Gambar:http://majalah.hidayatullah.com/wp-content/uploads/2010/06/karikatur-kebebasan-pers.jpg

Selasa, 04 Oktober 2011

Pengaruh Media Terhadap Budaya

Media massa mampu menyalurkan informasi kepada khalayak ramai di berbagai daerah secara serentak. Karena itu, media massa dipandang memiliki kekuatan untuk mempengaruhi khalayak. Ia dapat membentuk segala pandangan publik, mulai dari opini publik sampai kebudayaan masyarakat.

Media massa memiliki dampak jangka pendek dan dampak jangka panjang. Sebagai contoh, lihat saja Shinta dan Jojo yang populer karena mengunggah video keong racun di situs youtube atau perkembangan reshuffle kabinet yang menuai berbagai respon rakyat sampai berpengaruh ke masalah ekonomi. Semua ini dikarenakan adanya publikasi dari media massa.

Dampak jangka panjang lebih sering dipermasalahkan karena mempengaruhi budaya suatu masyarakat yang menerima pesan. Budaya massa merupakan sebutan untuk budaya yang tercipta karena media massa. Menurut Bennet dan Tumin, kebudayaan massa adalah  seperangkat ide bersama dan pola perilaku yang memintas garis sosio-ekonomi dan pengelompokan sub-kultural dalam suatu masyarakat yang kompleks 

Budaya massa adalah budaya populer yang diproduksi untuk pasar massal. budaya ini diproduksi massal dan dipasarkan untuk mendapatkan profit dari konsumen bagi kaum kapitalis. Menurut Aliran Frankfurt, budaya populer adalah budaya massa yang dihasilkan industri budaya untuk stabilitas maupun kesinambungan kapitalisme

Budaya populer ini memiliki rumusan, berulang, mengagungkan kenikmatan, sentiimental, sesaat, mengorbankan nilai-nilai keseriusan, mengorbankan intelektualitas. Budaya populer atau kerap disebut budaya pop sering disebut budaya tingkat rendah.

Musik pop adalah salah satu bentuk dari budaya pop. Semua orang dapat dengan mudah menikmati musik ini. Tidak memiliki tingkat intelektualitas tertentu untuk menikmati musik ini. Liriknya dapat dengan mudah menyentuh hati para pendengar, mengembangkan fantasi mereka atau malah menjadi pelarian. Berbeda dengan musik jazz digolongkan dalam budaya tingkat tinggi. Butuh intelektualitas untuk memainkan dan mengapresiasi musik aliran ini.

Media dapat membentuk pandangan masyarakatnya sedemikian rupa dan juga bisa menjadi cerminan dari khalayak media tersebut. Media diharapkan dapat memberikan asupan-asupan nilai positif bagi khalayaknya. Kemudian menggiring khalayak untuk menjadi penikmat tayangan atau informasi berkualitas. Perlu diingat, media bukan hanya alat pengeruk keuntungan, tapi juga memiliki tanggung jawab sosial untuk emndidik khalayaknya.

Sumber foto: karodalnet.blogspot.com/2010/07/foto-shinta-dan-jojo.html