Selasa, 27 September 2011

Anatomi Media Penyiaran

 Penyiaran adalah aktifitas pemancaran siaran melalui sarana pemancaran dengan menggunakan spectrum frekuensi radio melalui udara, kabel atau media lainnya sehingga dapat diterima secara serentak dalam waktu yang sama oleh komunikan melalui perangkat penerima siaran. 
Ada pun anatomi penyiaran yang ada:
     1.       Lembaga/ institusi :
Menurut Ketentuan Umum UU 32/2002 “lembaga penyiaran adalah penyelenggara penyiaran, baik lembaga penyiaran publik, lembaga penyiaran swasta, lembaga penyiaran komunitas, maupun lembaga penyiaran berlangganan yang dalam melaksanakan tugas, fungsi dan tanggung jawabnya berpedoman pada peraturan-peraturan perundang-undangan yang berlaku". Lembaga penyiaran dapat berupa institusi,  PT, Yayasan, Group dll

2.      Perizinan :
Perizinan menyangkut legalitas yang dimiliki oleh lembaga penyiaran dan program penyiaran

3.      Kepemilikkan
Kepemilikkan lembaga penyiaran dapat saja dipegang oleh perorangan atau grou yang badan hukum

4.      Isi/ konten :
Isi dari sebuah aktifitas penyiaran juga sangat penting karena dapat mempengaruhi komunikan. Isi dari aktifitas penyiaran hendaknya dapat membangun para komunikan dan jauh dari isu seks, agama dan ras serta isu-isu lain yang dapat merusak moral atau menebar kebencian.

5.      Infrastruktur :
Peralatan seperti antena, satelit, pemacar, internet, gelombang siaran berperan penting agar apa yang diterima oleh komunikan memiliki kualitas yang baik.

6.      Organisasi bisnis/ usaha :
Masalah organisasi bisnis atau usaha menyangkut langsung dengan tingkat pendapatan suatu media siaran. Pendapatan atau profit diperkukan untuk keberlangsungan sebuah lembaga siaran.

7.      Sumber daya manusia (SDM):
Di dalam media siaran, SDM seperti redaksi, staf, editor, wartawan merupakan bagian yang penting karena mempengaruhi langsung konten yang akan disajikan. SDM berkualitas akan menghasilkan konten kretif yang berkualitas pula.

8.     Pasar/ market share :
Pasar dari sebuah lembaga siaran dapat mencakup lokal, nasional, global.

9.      Audience :
Audience atau khalayak penerima pesan berpengaruh langsung terhadap penghasilan sebuah media siaran. Semakin tinggi jumlah audience, semakin tinggi pula minat pemasang iklan di media itu.

10.  Regulasi:
Karena menggunakan spectrum frekuensi radio yang sebenarnya adalah milik umum dan tidak boleh dikuasai oleh pihak mana pun, kegiatan penyiaran memerlukan adanya regulasi atau peraturan. Di Indonesia, penyiaran diatur oleh Komisi Penyiaran Indonesia (KPI).

Pemerintah Indonesia sendiri mempunyai Undang-undang yang mengatur penyiaran, yakni: UU no. 36 tahun 1999,  UU no. 40 tahun 1999, UU no. 32 tahun 2002, UU no. 11 tahun 2008.


Selasa, 20 September 2011

Jurnalisme Gaya Baru

Sekitar tahun 2000, radio Elshinta mengembangkan jurnalisme yang membuat para pendengarnya melakukan kegiatan seorang jurnalis. Jurnalisme bentuk baru ini kemudian berkembang di Indonesia dan kerap disebut jurnalisme warga (citizen journalism). Bentuk jurnalisme ini menempatkan warga sebagai subjek yang mencari, mencatat, mengumpulkan dan mempublikasikan berita.

Ada beberapa hal yang memicu munculnya jurnalisme warga; yang pertama, jelas karena perkembangan teknologi yang semakin canggih dan murah. Hal ini memungkinkan para pendengar, pembaca atau pemirsa terlibat aktif untuk membagikan informasi dalam sebuah media.

Kedua, masyarakat mampu mengangkat hal-hal yang bersifat lokal dan individual daripada media. Hal ini dikarenakan keterbatasan media-media besar yang tidak berada di seluruh pelosok Indonesia. Sebut saja peristiwa tsunami 2006 di mana video yang memperlihatkan bagaimana tsunami terjadi berasal dari warga, bukan dari jurnalis profesional.

Terakhir berhubungan dengan agenda setting media yang fokus terhadap kasus-kasus tertentu dan tidak menyentuh kebutuhan masyarakat yang sebenarnya. Misalnya masyarakat pedesaan yang sebenarnya butuh informasi-informasi yang berguna untuk mengembangkan usaha pertaniannya, namun dijejali berita-berita korupsi. Hal ini menimbulkan ketidakpuasan masyarakat terhadap media.

Perkembangan pesat yang terjadi dalam jurnalisme warga ini pun bukan tanpa cacat. Karena ada menjadi seorang jurnalis juga terikat oleh kode etik dan ada nilai-nilai berita yang tak dapat diabaikan begitu saja. Baik itu jurnalis warga atau professional, mereka tidak boleh melanggar asas praduga tak bersalah atau dengan kata lain tidak menuduhkan sesuatu yang belum tentu benar terhadap seseorang tanpa putusan dari pihak berwenang.

Jurnalis juga harus melakukan konfirmasi terhadap pihak-pihak yang terkait atau istilahnya cover both side. Sebuah berita yang dipublikasikan kepada publik tidak boleh mengandung unsur SARA, sarkartis, sadistis dan pornografi. Beberapa hal ini yang kerap menjadi masalah dalam kegiatan jurnalisme warga.
Penulisan berita yang sesungguhnya pun tidak terlepas dari Sembilan nilai berita, yakni aktualitas, keberimbangan, relevansi, signifikansi, kebesaran nama seorang tokoh yang diangkat, besarnya suatu peristiwa/magnitude, proksimitas, dan kompetensi sumber. Ketika sebuah berita mengandung sembilan unsur tersebut, maka, berita yang diangkat pun pasti menarik dan berpengaruh bagi khalayak. 

Selasa, 13 September 2011

Persepsi tentang Perempuan dalam Media

Apa yang terlintas pertama kali di benak Anda ketika mendengar kata “perempuan”? Tertindas, lemah, ibu Kartini, kaum yang harus dibela, dapur atau mungkin mandiri, duta bangsa, calon pemimpin? Sadar atau tidak, persepsi yang anda miliki ini sedikit banyak dipengaruhi oleh media
.
Lalu, bagaimana media sendiri mempersepsi perempuan dalam bingkai mereka? Ibu Henny Wirawan, dekan Fakultas Psikologi Universitas Tarumanagara mengajak kami berdiskusi tentang hal itu dalam kelas kapita selekta pada 7 Sepetember 2011 lalu.

Ada hal positif yang terangkum dalam pertemuan itu:
Peranan perempuan sudah mulai terlihat di sektor public, bukan hanya di dapur dan mengurus anak. Contohnya saja iklan pepsodent yang tidak menggunakan sosok ibu untuk mengemong anak menyikat gigi. Beberapa iklan seperti Vitalong C mengangkat sosok wanita karir yang sibuk di kantor yg butuh tenaga ekstra.

Perempuan dianggap sudah mandiri dan dianggap bisa menjadi leader dalam dunia sosial politik. Sebut saja ibu Sri Mulyani yang disorot dalam keberhasilannya meraih jabatan Direktur Pelaksana Bank Dunia.
Sosok terpelajar juga dipercaya menjadi duta dalam berbagai aspek seperti budaya, pariwisata bahkan membawa nama negara dalam kancah internasional.

Di beberapa media yang mengadakan kesempatan tanya jawab, perempuan sudah mulai berani megutarakan kehidupan pribadi seperti masalah seks. Hal ini dianggap sebuah kemajuan yang penting oleh ibu Henny karena banyak wanita yang malu mengungkap masalah seks nya padahal itu sangat berpengaruh dengan kesehatan (misal: kanker serviks).

Setelah mengurai hal positif, ada pula beberapa hal negatif yang sering digambarkan media tentang perempuan:

Media sering mengekspos sensualitas perempuan. Hal ini ditujukan untuk menarik perhatian kaum adam dalam berbagai iklan atau berita. Dalam hal ini, perempuan diposisikan sebagai objek dan  pemanis.

Gaya hidup konsumerisme dan hedonisme juga kerap dikaitkan dengan wanita. Hal ini sangat jelas terlihat dalam sinetron-sinetron yang menayangkan perempuan sebagai sosok yang hobi belanja, hidup foya-foya dan selalu  menggunakan barang-barang terbaru.