Kamis, 08 Desember 2011

Komunikasi Bencana Melalui Social-Media

Badan penanggulangan bencana Nasional mencatat dalam beberapa tahun terakhir, Indonesia mengalami 644 bencana. Dari bencana tersebut terdapat 1.711 orang meninggal, 1.398.932 terluka dan hilang serta 14.639 rumah hancur. Bencana terbesar terjadi di tahun 2010, bahkan pada tahun 2011, National Oceanic and Athmospheric Administration (NOAA) di Maryland, Amerika Serikat member peringatan akan adanya La Nina sepanjang tahun.

Melihat jumlah korban yang sangat banyak, sudah sepatutnya Indonesia membuat suatu sistem tanggap bencana. Social-media dapat menjadi pilihan untuk membantu masyarakat berkomunikasi pada saat genting. Peningkatan pengguna social-media di Indonesia sangat signifikan, jumlah pengguna twitter saja mencapai 7.6 juta akun.

Salah satu akun yang memakai twitter sebagai alat komunikasi pada saat bencana adalah @jalinmerapi. Dari pengalaman mereka menggunakan twitter sebagai media komunikasi dapat dijabarkan kelebihan dan kekurangan penggunaan twitter sebagai media komunikasi pada saat bencana:

Kelebihan

Kekurangan
Cepat, murah dan menjangkau banyak pihak khususnya kelas A dan B
Hanya terbatas pada fungsi tertentu karena keterbatasan teknis
Sangat mengedepankan citizen journalism, sehingga data yang dikumpulkan tidak memiliki muatan lain selain kemanusiaan
Membutuhkan media lain untuk menyampaikan informasi yang lebih panjang
Umpan balik cepat
Tidak menjangkau masyarakat tingkat sosial dan pendidikan rendah

Karena karakter twitter yang terbatas hingga 140, harus dibuat beberapa aturan yang nantinya akan memudahkan admin mengolah informasi. Pertama, tetapkan penggunaan hashtag, cara penulisan yang efisien dan informasi apa yang akan di retweet. Dengan begitu, informasi yang disebar akan efisien dan tepat guna.

Kedua, twitter dapat digunakan untuk menghubungkan pengguna ke media lain dengan memberikan link ke media yang lebih lengkap. Di sini, twitter digunakan sebagai media untuk memberikan notifikasi.

Terakhir, adanya kehadiran admin sebagai pengatur lalu lintas informasi. Ia bertugas untuk medistribusikan info pendek lalu mengarahkan follower mengakses media lain yang mengulas suatu informasi lebih dalam. Dengan kata lain, admin merupakan penyatu semua komponen yang ada.

Minggu, 04 Desember 2011

Kampanye, Iklan Politik dan Golput

Menurut UU no.10/2008, kampanye pemilu adalah  kegiatan Peserta meyakinkan pemilih dengan menawarkan visi, misi, dan program Peserta Pemilu. Menjelang masa kampanye pemilihan umum (pemilu) kita dapat melihat banyak sekali iklan politik yang ada di berbagai media, baik cetak mau pun elektronik. Hal ini tentu saja dimaksudkan untuk membangun kepercayaan publik melalui iklan.

Dana yang mengucur ke perindustrian iklan pun menajak tajam, mencapai Rp 2,154 triliun. meningkat sekitar 335  persen dibanding Pemilu 2004. Meski pun banyak dana mengucur untuk mempersuasi masyarakat memilih salah satu capres, tetapi tampaknya hal ini tidak berjalan efektif. Dari total suara pemilih yang terdaftar, 176.367.056 hanya ada 121.504.481 suara yang sah.

Bukti nyata iklan politik tidak serta merta mendatangkan suara pemilih dapat dilihat kepada Soetrisno Bachir yang mendominasi iklan politik, namun hanya mendapat 0,3% suara. Begitu juga dengan Prabowo Subianto yang hanya mendapat 1,5% suara.

Banyaknya iklan pun tidak membuat masyarakat menjadi peduli dengan siapa yang akan memimpin mereka. Jumlah pemenang pemilu dalam pemilu legislatif sejumlah 21.703.137 suara. Angka ini, lebih kecil dari jumlah golput, 49.212.158.

Iklan kampanye politik memang tidak dapat dikatakan membantu pencitraan masing-masing politisi di mata masyarakat. Iklan kampanye politik bukan referensi utama bagi masyarakat dalam memilih. Iklan politik justru dijadikan selingan yang menghibur. Sejatinya, rakyatlah penilai utama parpol.